
BALI — Alumni Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Denpasar, Imanuel Karango, angkat bicara terkait maraknya generalisasi negatif terhadap perantau asal Sumba di Bali. Dalam catatannya yang disampaikan Senin (22/12/2025), ia mengakui adanya oknum perantau yang pernah berbuat onar, namun menegaskan bahwa hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk menghakimi seluruh komunitas.
Imanuel, yang saat ini bekerja sebagai buruh di Bali, menyatakan bahwa sebagai sesama perantau, pihaknya juga merasa malu dan prihatin atas tindakan segelintir oknum yang mencederai rasa aman masyarakat.
“Saya tidak menutup mata dan tidak memungkiri, memang ada oknum-oknum perantau Sumba yang pernah berbuat onar. Itu fakta. Kami juga merasa malu dan prihatin,” ungkapnya.
Namun demikian, ia menekankan bahwa ribuan perantau Sumba lainnya justru hidup dengan tenang dan bekerja secara jujur. Mereka berprofesi sebagai buruh proyek, sopir, pekerja spa, penjaga keamanan, hingga penghuni kos sederhana yang kesehariannya diisi dengan bekerja dan menjaga ketertiban.
Menurutnya, Bali telah memberikan ruang hidup bagi para perantau, dan hal tersebut dibalas dengan kerja keras, keringat, serta sikap hormat terhadap adat dan masyarakat setempat.
“Hubungan ini dibangun dari keseharian, bukan dari media sosial,” katanya.
Imanuel juga mengutip pernyataan tokoh masyarakat, I Made Ronny Fernando, yang menilai bahwa kehidupan sosial di Bali selama ini berjalan dengan baik dan harmonis, sehingga harus dijaga bersama oleh seluruh elemen masyarakat.
Ia mengingatkan agar media sosial tidak dijadikan sarana memperbesar jarak sosial maupun menanam prasangka antar kelompok.
“Ketika identitas orang Sumba digeneralisasi, rasanya berat bagi mereka yang tidak pernah membuat masalah. Ini bukan soal tersinggung, tapi soal keadilan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa sikap tersebut bukan bertujuan membela oknum pelaku pelanggaran hukum. Sebaliknya, ia mendorong penyelesaian masalah secara adil.
“Yang salah harus ditindak, yang benar jangan ikut diseret,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Imanuel mengajak seluruh pemuda dan perantau untuk menjaga sikap dan perbuatan, mengingat mereka hidup di tanah orang lain.
“Apa yang kita lakukan hari ini menentukan kepercayaan yang diwariskan besok,” pungkasnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada Bali yang telah memberikan ruang hidup sekaligus pelajaran tentang pentingnya tertib dan saling menghormati.
Artikel Jangan Generalisasi Perantau Sumba di Bali, Ribuan Hidup Tertib dan Bekerja Jujur pertama kali tampil pada Fajar Info Online.

